Perjalanan hampir 5 jam Purbalingga-Jogja hari ini
bener-bener bikin kempes semua deh. Pertama, so pasti Bo****g kempes dipake
buat duduk diatas motor selama itu. Kedua, jantung kembang kempis liat cowok
naik motor gede di jalan tadi #ehhh-Ingaaat Zina Mata *wink*wink mari
istighfar. Ngaku deh, pasti senyam-senyum sendiri kan kalo di jalan ada
pemandangan indah kayak gitu. Padahal gak tau deh, yang dibalik helm itu udah
om-om atau malah kakek-kakek. Dasar wece-wece (- __ - “) jantungku
kembang-kempis kalo di klaksonin truk-truk transformer. Ketiga, Berangkat ke
jogja gak meriksa dompet, Pas bensin limit dengan pedenya ke Pom bensin, eh
ternyata yang dibawa dompet kempes isinya 6.000 doang. Apesnya lagi di pom
bensin itu kagak ada ATM. Gak usah penasaran ya sama kelanjutannya dan apa yang
kulakukan tadi, malu eeeuuuyy. Yang penting sekarang udah sampe dengan selamat
di jogja.
Pengantar doang ituh, Sekarang kita masuk di bagian
sedih-sedihan ya. Tenang aja, eike bukan penulis romansa atau novel mewek yang mau
buat pembacanya nangis-nangis.
Hari ini, entah kenapa kangen pada 2 orang yang akan
kutuliskan di baris-baris selanjutnya. Mereka ini 2 orang yang sangat berarti
dalam hidupku. Kepribadian mereka introvert dan melankolis, sangat berbeda jauh
dengan kepribadianku yang ekstrovert dan sanguinis. Didetik ini, meski dalam
keadaan *kempes* semua tetapi otak dan hatiku ingin merekam 2 orang ini
dalam sebuah tulisan. Terlalu nyaman berada disamping mereka. Padahal, siapa yang tahu kalau mereka merasakan hal yang sama atau malah sebaliknya “sebel
atau malah kesel”?. “Nyaman” itu dimensinya perasaan, makanya kita gak bisa
memaksa orang lain untuk menyukai kita, iya kan readers?
Mereka ini bukan saudara kandung, teman, sahabat, LDR
apalagi, Pacar *WhatTheHell* Saya bingung mau menyebut mereka apa. Mereka berjenis
kelamin wanita, Yang satunya lebih diatas saya dalam hal usia dan yang satunya
lebih muda dari saya.
#Part 1
Dia yang punya nama panggilan khusus “Mpus Meong”
Biasanya nih, klo udah sampe di kos an. Bukannya masuk kamar
dulu atau ganti baju, saya langsung menghambur ke kamar seseorang. Curhat dari
A-Z dan dia menjadi pendengar yang sangat baik dengan sesekali senyum. Saya
sangat ingat, 2 minggu lalu ketika pulang ke jogja, dia datang ke kamar “Zly,
mau siomay?” Saya benar-benar mengagumi salah satu sifat “perhatiannya ke orang
lain”. Sepertinya ia akan menjadi ibu yang sangat penyayang pada anak-anaknya.
Ada yang berbeda hari ini ketika saya pulang, pintu kamarnya
tertutup dan sangat gelap. Tetangga kamarnya berkata “Mbak, ini ada titipan
dari mbak L, banyak yang nggak tahu keberangkatannya, dia berangkat terlalu
pagi”, Sebuah box yang berisi sepasang wedges hitam. Seperti warna wedges ini,
tiba-tiba hari ini menjadi gelap seketika.
Semacam sayonara gift kan? Padahal, sebelum-sebelumnya mbak L ini selalu ngasih hadiah yang berwarna “pink", salah
satu contohnya adalah bando kelinci yang berwarna pink, hadiah-hadiah yang lain sudah berada di Purbalingga sono.
Saya sangat kehilangan sosok seseorang yang bisa dianggap
guru. Bukan hanya dalam kehidupan pribadi. Dia yang telah menjadi jembatan saya
menyeberang ke berbagai pulau di Indonesia. Dia yang telah megajari saya untuk
hidup lebih mandiri dan tidak cengeng. Dia yang mengajari saya untuk lebih
banyak memberi daripada meminta. Dia yang mengajari saya untuk lebih banyak
belajar. Dia yang selalu mengajari saya untuk tidak banyak mengeluh. Dia yang
selalu menyemangati meski saya tahu hatinya sangat rapuh. Readers, bukan
berarti dia sempurna, manusia tidak ada yang sempurna, tentu manusia banyak
memiliki kekurangan. Kata orang bijak, ingatlah kebaikan seseorang dan buang
jauh kekurangannya.
Dan bagaimanakah perasaanku ketika melihat sepasang wedges
hitam itu? Kutatap wedges hitam itu dan menitipkan sebuah pesan kepada sinyal internet“Selamat
berjuang disana mbak. Semoga suatu saat kita kembali dipertemukan oleh Allah
SWT. Uhibbukifillah yaa ukhti kabiir. Loveyou, Saranghamnida, aishiteru. ~Terimakasih
telah membersamaiku selama 6 tahun ini~
Part 2 di tunggu.... #To Be Continued...Why? Kerena momennya gak tepat, part 2 ini soal galau-galauan, saya masih ingin menikmati kesedihan ditinggalkan Mbak L.